Pages

Sabtu, 06 Desember 2014

MAJALAH SWARAHASTA EDISI 2014 "KULTURISASI MASA KINI"

MAJALAH SWARAHASTA EDISI 2014 "KULTURISASI MASA KINI"

Cover Majalah SWARAHASTA edisi 2014


Download Klik DISINI

MAJALAH PAMERAN ANGGOTA BARU (ABr) 2014

MAJALAH PAMERAN ANGGOTA BARU (ABr) 2014



download Klik DISINI

RAMALAN CIAMSIRAMALAN CIAMSI



RAMALAN CIAMSI

Meja ramalan di dalam rumah Ciamsi –Pesarean
       Malang  (17/10)- Ramalan Ciamsi yang berada di area Pesarean eyang Djoego merupakan budaya yang menarik kerena sering dikunjungi oleh wisatawan. Suranti Risdianto(54), mengatakan bahwaCiamsi merupakan kegiatan memohon petunjuk kepada Tuhan  dengan menggunakan  sarana lidi, melalui perantara Eyang dan Raden Mas Soedjono yang berjasa membuka  lahan di daerah ini.                        

              Sependapat dengan Suranti Risdianto, Supadi (43), mengatakan bahwa Ciamsi dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapapun yang percaya dengan ramalan Ciamsi. Budaya yang dimiliki oleh yayasan Pesarean tidak memungut biaya, boleh menyumbangkan uang seikhlasnya.
             Aji(44), penjaga rumah Ciamsi mengatakan bahwaramalan Ciamsi diawali dengan menyebut umur, dilanjutkan dengan berdoa (menyampaikan keinginan, red.), sambil menggoyangkan Ciamsi hingga satu lidi Ciamsi jatuh. Jika ciamsi yang jatuh lebih dari satu, dapat diulangi hingga hanya satu Ciamsi yang jatuh. Ciamsi yang jatuh kemudian dicocokan dengan blangko yang tersedia. Selanjutnya di dalam blangko akan tertera jawaban dari keinginan kita.
  Kecuali oleh orang keturunan cina asli, ritual Ciamsi diawali dengan melempar pakpoi (dua kayu kecil yang dilempr bersamaan,red). Jika jatuhnya berlawanan, diijinkan untuk melakukan ramalan Ciamsi. Jika jatuhnya sama-sama tertutup atau terbuka, maka tidak diijinkan untuk melakukan ramalan Ciamsi. Hal tersebut dibenarkan juga oleh Suranti Risdianto dan Supadi.
            Ada tidaknya pengunjung  Ciamsi , rumah Ciamsi tetap terbuka bagi siapapun yang ingin diramal maupun yang percaya dengan ramalan Ciamsi. Ramalan Ciamsi terbuka untuk semua agama dan tidak ada batasan usia.
 (Yuni_HMJF)

 

BUAH TANGAN DARI GUNUNG KAWI

BUAH TANGAN DARI GUNUNG KAWI

Berbagaijenisbuahtangan yang dijual di objekwisataGunungKawi
Wonosari (17/10) - Terkenal dengan objek wisatanya yaitu Gunung Kawi. Di area Gunung Kawi terdapat banyak pedagang, diantaranya adalah pedagang ubi, pedagang pisang , pedagang kuliner dan masih banyak lainnya. Barang-barang yang dijual biasanya akan menjadi oleh-oleh atau buah tangan bagi para pengunjung di wisata Gunung Kawi. Menurut Liah(64) seorang pedagang ubi menjelaskan telah lama berjualan ubi. Untuk hari-hari biasa Liah mendapatkan penghasilan sepuluh sampai duapuluh ikat dengan harga satu ikatnya adalah 7500 rupiah. Jika hari libur , hari minggu, ataupun saat upacara yang biasa disebut Suro, jualan ubi sendiri bisa habis terjual  sampai dengan 100 ikat.
            Jenis ubi ada bermacam-macam diantaranya yang dijual adalah ubi ungu dan ubi kuning. Ubi ungu memiliki kulit berwarna ungu kehitaman sedangkan ubi kuning memiliki kulit berwarna merah. “Kedua ubi ini sama-sama manis, hanya saja ubi ungu yang paling banyak diminati karena lebih manis daripada ubi kuning”, tutur Liah sembari menawarkan ubi yang dijualnya.

GREBEK SATU SURO DI GUNUNG KAWI



GREBEK SATU SURO DI GUNUNG KAWI
Jolen Kodok Dewi Kwan In yang terbuat dari bambu dan sterofoam
 Wonosari–Jum’at (17/10). Jelang perayaan Satu Suro masyarakat desa Wonosari tampak sibuk mempersiapkan karya-karya seni menarik yang akan dibawa pada saat perayaan Satu Suro tahun ini (25/10). Tanggal Satu Suro diperingati sebagai hari yang sakral. Perayaan Satu Suro atau Grebek Satu Suro adalah acara rutin tiap tahun yang digelar oleh masyarakat desa Wonosari, Kabupaten Malang. Hal ini dilakukan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan yang Maha Esa,karena telah memberikan berkahnya untuk awal tahun yang baru. “Biasanya acara Satu Suro dihadiri oleh ribuan orang bahkan puluhan ribu orang dari luar desa Wonosari”,jelas Kuswanto(59) Kepala Desa Wonosari.
 Pada perayaan Satu Suro masyarakat desa Wonosari  mempersembahkan tumpeng-tumpeng untuk dikirab dari “Gapura bawah”menuju pesarean eyang Djoego dan Imam Soedjono. Hal ini sebagai wujud penyampaian doa dan rasa terimakasih karena dengan adanya pesarean eyang Djoego dan Imam Soedjono mampu meningkatkan perekonomian dan akulturasi kebudayaan Jawa,Islam,dan Cina.
*